Jumat, 03 Agustus 2012

JEJAK PASIR (4); PONTIANAK, OH PONTIANAK...

Suatu hari, seorang teman datang ke Pontianak. Saya memanggilnya Tifa. Kami berkenalan saat di Putussibau. Dia adalah salah satu peserta program Indonesia Mengajar dan mendapat tempat tugas di desa Empangao, Kapuas Hulu. Kedatangannya ke Pontianak adalah untuk transit. Kontrak mengajarnya yang setahun itu sudah habis, dan ia hendak kembali ke rumah asalnya, Yogyakarta. Transit nya di Pontianak ini, selama dua hari satu malam (Hm, itu bukan transit ya?).

Saya pun mencoba menjadi tuan rumah yang baik. Saya tawarkan dia untuk berkeliling Pontianak, berharap “ia tidak melupakan panasnya kota Pontianak”. Dan memang itu niat dia. Kami pun memulai perjalanan dari pom bensin, sebab motor perlu dipenuhkan tangkinya terlebih dahulu.

Setelah dari pom bensin, kami ke museum Kalbar. Ternyata sudah tutup. Saat itu sudah hampir jam dua siang dan museum tutup jam satu (padahal ditulis di papan pengumumannya, tutup jam dua. Apakah ini indikasi kalau pengelola museum suka sewenang-wenang atau ditutup karena jarang yang mengunjungi). Ya sudahlah. Kami melanjutkan tur.

Lantas, kami ke stadion PSP (Persatuan Sepakbola Pontianak), di jalan Pattimura. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mencari oleh-oleh. Di sana, di belakang stadion, berjejer toko-toko yang menawarkan oleh-oleh khas Kalbar, dari baju hingga makanan (karena tahu hal ini, mereka kadang kelewatan memasang harga. Huuu). Ternyata Tifa adalah perempuan yang susah dan tidak doyan berbelanja. Saya pun begitu. Maka, jadilah kami keluar masuk toko tanpa banyak bertanya dan menawar. Hasilnya, beberapa helai baju saja.

Dari PSP, kami lantas ke Jembatan Kapuas. Sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena kemacetan –Pontianak semakin sumpek saja dari hari ke hari- dan panas yang menyengat, perjalanan terasa menjadi cukup melelahkan. Akhirnya, lewat dari jembatan Kapuas, kami berbelok ke kiri, ke arah keraton Kesultanan Syarif Al-Kadriyah, sisa-sisa kerajaan Islam di Pontianak.

Beruntung Tifa tidak banyak bertanya pada saya, sebab saya sendiri memang baru pertama kali ini ke keraton (agak malu-malu saya mengakui hal ini). Ketika kami masuk ke keraton, buyarlah semua bayangan saya tentang kejayaan Kesultanan. Saya pikir, yang namanya kerajaan pasti mewah. Setidaknya, mereka memiliki nilai historis yang menakjubkan. Ternyata, tidak terlalu. Ah, tidak tega saya menggambarkannya. Ibaratnya, tidak ada bedanya bila saya datang ke keraton dengan ke rumah kayu lama yang diberi debu benda-bendanya. Atau, mungkin saya saja yang terlalu naif.

Satu-satunya yang berkesan bagi saya adalah sebuah info, yang tertulis di sebelah potret Sultan Hamid II, bahwa pembuat lambang burung Garuda adalah Sultan Hamid II. Sedikit ulasan tentang ini; di hari-hari kemudian, saya temui warta investigasi dari sebuah koran bahwa burung Garuda itu diambil Sultan Hamid II dari lambang Kesultanan Sintang. Ini tentu membingungkan, sebab banyak tulisan yang saya temukan mengabarkan bahwa lambang Garuda adalah tunggangan Shiwa, dan menjadi hewan suci di era Majapahit. Misalnya, di buku Gayatri Rajapatni, ditulis oleh Earl Drake, disebutkan bahwa “ lambang negara Indonesia terdiri dari elang keemasan bernama Garuda, yang muncul dalam titeratur kuno dan ditemukan di sejumlah candi yang dibangun antara abad ke-6 dan 16.” Disebutkan juga di sana, slogan “Bhineka Tunggal Ika” adalah motto jawa kuno yang dicetuskan oleh Mpu Tantular dari kerajaan Majapahit.

Ah, peduli amatlah dengan masa lalu.

Dan Sultan Hamid II itu, bila ia memang termasuk pahlawan nasional, adakah yang repot-repot mencari tahu tentangnya? Kita hanya dijejali tentang Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan baru-baru ini Tan Malaka. Bukannya ingin menampik jasa mereka, bukan pula ingin memunculkan fanatisme pada Sultan Hamid II. Saya hanya ingin berargumen bahwa sejarah sering kali diringkas dalam peran beberapa tokoh saja.

Ah, peduli amatlah dengan masa lalu.

Oh, ada lagi beberapa kesan yang kami dapat dari Keraton. Ketika Tifa bertanya pada seorang penjaga “ada tidak buku tentang keraton Pontianak?”. Penjaga yang merupakan wanita separuh baya itu mengangguk “ada”. Lantas, kami diajaknya masuk ke dalam kamar yang berisikan sebuah ranjang kuno. Beberapa orang kami dapati sedang berpotret di depan ranjang tersebut. Kami pikir “tentu ranjang ini adalah ranjang yang sakral. Mungkin bekas Sultan Hamid II”. Dan ketika si ibu pejaga mengambil buku, yang ternyata hanya potokopian, dari bawah bantal di ranjang itu, segala interpretasi bermunculan di kepala saya dan Tifa.

“Hahaha. Jadi ranjang kuno ini kalau malam dipakai si ibu untuk tidur. Kalau siang, dibagus-bagusin, di kasih bunga-bunga. Biar dibilang “antik”. Haha. Bagus, bagus, menyakrakalkan benda cuma bikin syirik plus bangkrut”

“Hahaha, gue kirain bukunya taruh dimana. Ternyata di bawah bantal!”

“Hahaha, kirain buku beneran! ternyata potokopian dan harganya 25 ribu”

Kami akhirnya berterima kasih saja. Tidak jadi beli. Selain bawa duit pas-pasan, setelah kami membaca sekilas, ada keyakinan bahwa info di dalam buku itu bisa kami cari di Tuan Gugel. Jika tidak didapati, tidak apa-apa juga. Toh, isinya kebanyakan hanya susunan silsilah (Hmm, heran, mengapa sejarah kerajaan sering kali disempitkan hanya pada susunan silsilah, seakan-akan perjalanan peradaban manusia hanyalah urusan beranak-pinak). Dan, ada satu komentar Tifa yang menarik. “Kalau diperhatikan, rata-rata kerajaan Islam pasti pangkal paling atas adalah Nabi Muhammad. Kalau bukan nabi, minimal sahabat-sahabat nabi, atau syekh siapa gituu”. Ya ya ya. Wajar bu. Bukan mau menyinggung SARA, tapi kita memang agak sulit melepaskan sisi kefanatikan identitas.

Ah, peduli amatlah dengan masa lalu.

Lantas, kami mengisi “buku tamu”. Di dalamnya, ada kolom “aspirasi”. Saya baca beberapa aspirasi pengunjung lain. Isinya, hampir sama semua; “tolong di rawat”, “tolong dijaga keraton ini”, “tolong pemerintah lebih memerhatikan aset sejarah daerah”, dan macam-macam lagi. Melihat kondisi keraton, saya yakin, aspirasi tersebut hanya formalitas saja. Tapi, ada satu aspirasi yang hingga saat ini bisa membuat saya tertawa bila mengingatnya. “So sweet”, begitu bunyinya. Hmm, ya ya ya. Entah, apakah itu bentuk kepolosan penulisnya atau bentuk kritikan atau mungkin, keraton ini memang so sweet.

Saya sendiri akhirnya tidak menulis apa-apa. Sebab, peduli amatlah dengan masa lalu.

Setelah menulis buku tamu, kami ternyata dimintai uang sumbangan. Kami berilah sekian rupiah. Kira kami, uang itu adalah uang perawatan Keraton, ternyata bukan. “Buat acara pengajian di Keraton”, begitu ungkap si penjaga dengan nada polos.

Kami dibohongi! Niat kami kan untuk merawat keraton (meski pun sesungguhnya “peduli amatlah dengan sejarah”), kenapa beralih ke pengajian? Okelah, menyumbang pengajian juga adalah hal yang baik, tapi bagaimana kalau pengajian mereka ternyata pengajian yang sesat. Sekarang banyak aliran sesat. Kami merasa akan sangat berdosa bila itu adalah kenyataan!! (lebay.com).

Kenyataannya, kami tidak berpendapat apa-apa.

Lalu, selesai urusan dengan keraton, kami pun keluar, siap-siap melanjutkan perjalanan. Sambil memasang sepatu, seseorang menghampiri saya. Dia pengemis. Dan jumlah mereka bukan hanya satu. Yang datang kepada saya adalah seorang perempuan tua. Dia menyapa saya seakan saya adalah kenalan lama. Saya tawari dia rokok, dia mau. Lagi-lagi, kami tidak ada pendapat apa-apa soal ini, meski sesungguhnya timbul pikiran miris. “Keraton dan Pengemis". Yang satu adalah sisa kejayaan masa lalu, yang satu adalah realita masa kini. Keduanya seperti tidak pernah terjalin dalam satu ikatan yang sama. Dan memang begitulah kehidupan. (halaaah)

Saya dan Tifa akhirnya benar-benar meninggalkan keraton ini.

Kami kemudian menuju ke tugu Khatulistiwa yang ada di tepian kota Pontianak, terletak satu-dua kilo meter setelah gapura “selamat Jalan, semoga sampai dengan selamat di tujuan”. Saya pribadi, tidak pernah betul-betul singgah ke tugu Khatulistiwa. Melihatnya sering, karena ia berada di jalur Pontianak-Singkawang, rute yang pasti akrab dengan saya.

“Gini aja?” kalau tidak salah, seperti itulah komentar Tifa ketika kami tiba di tugu. Saya angguk-angguk.

“Iya, gini aja”

“Di foto-foto, keliatan wah. Tinggi”

“Salah satu kegunaan foto adalah untuk mengaburi kenyataan. Gak mau foto sekalian?” Tifa membawa kamera poket juga. Sekadar dibawa saja karena ia ternyata tidak banyak memotret.

“Poto Tugu? Gak usahlah. Download aja nanti di Gugel. Lebih bagus”

“Hahaha”

Memangnya seperti apa sih tugu Khatulistiwa yang sudah ada sejak zaman Belanda itu? lebih baik, lihat sendiri saja. Kalau saya kebanyakan bacot, dan bacotan saya sering bernada skeptis, saya takut tidak ada lagi teman yang mau datang ke Pontianak. Yah, meski bagaimana pun, kota Pontianak adalah kota kelahiran saya. Tidak sepantasnya saya mengkritik (baca: berskeptis) dengan nada minus terlalu berlebihan. Masih ada hal-hal menarik yang bisa dilihat di Pontianak. Saya saja yang terlalu naif memandang.

Akhirnya, kami memilih minum es lidah buaya di warung samping tugu. Es lidah buaya ini bisa jadi promosi pariwisata!. Rasa segarnya berhasil membuat saya tidak lagi skeptis.

Setelah es habis, kami kembali ke kota. Tepatnya, ke Mall Ayani. Tidak ada yang berbeda dari Mall di sini dengan Mall Jakarta atau Bandung. Jadi, sama sekali tidak ada kesan. Hanya, Tifa sendiri kelihatan agak linglung. Dia terlalu lama di Empangao yang menjejalinya dengan keindahan hijau daun, kesunyian riak sungai, dehem Buaya, dan anak-anak yang polos. Ya kawan, selamat datang kembali ke dunia nyata, dunia yang dipenuhi macam-macam indikasi modernitas, dari dering handphone, klakson motor, riuh promosi produk impor, dan tawa manusia moderen sendiri. Semoga menikmati. He.

Akhirnya, kita ke bioskop saja. Beruntung kami punya minat yang sama. Dia ajak nonton Soegija. Sayang, saya sudah menonton. Akhirnya, film “asimilasi” yang jadi pilihan. Judulnya, Snow Princess and the Huntsman. Betulkan istillah “asimilasi”? dua cerita dijadikan satu. Contohnya, si Putri Salju (yang diperankan Gadis Twilight itu, Kristen Steward) ketika pingsan, tidak menjadi sadar karena ciuman pangeran, namun karena kecupan si Pemburu (lupa juga nama pemerannya). Hmm. Apa ini model dekonstuksi terbaru?

Habis nonton, kami cari makan malam. Ketika keluar Mall, kami sadari ada yang berubah dari udara Pontianak. Pekat sekali. Pasti karena asap dari pembakaran hutan. Di siang hari tidak begitu berasa. Kasihan juga si Tifa. Di Empangao pasti udaranya jernih. Di kota, ia sudah harus beradaptasi dengan polusi. Akibat perubahan mendadak itu, dia batuk-batuk. Ckck. Semoga menikmati.

Singkatnya, kami pun makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sebaiknya pulang. Tapi, saya sudah terlanjur bikin janji dengan beberapa teman di jalan Gajah Mada, tempat segala macam warung kopi, dari yang berlabel hotspot hingga tradisional, berderet. Kami pun mengopi-ngopi dulu. Ngobrol ini itu. Saat jam sudah hampir di angka sebelas, kami baru benar-benar pulang.

Di perjalanan, saya tanya Tifa “bagaimana Pontianak?”

“Bagus” ujarnya. Saya menangkap kesan di balik itu, namun tidak saya bicarakan. Sambil terus menggas motor, konsentrasi saya pun terpecah antara mengemudi dan merenungkan kota kelahiran saya ini. Perlahan-lahan, rasa miris pun menyergap hati. Pontianak, oh Pontianak.


Singkawang, 24 Juli 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar