Jumat, 03 Agustus 2012

JEJAK PASIR (3); DI DANGO DAYAK KAYAAN IDA' BERAAN

Perjalanan ke kota Putussibau, menghabiskan waktu 16 jam. Kami, saya dan mas Ismu maksudnya, berangkat dari pukul setengah lima sore, sampai pukul delapan pagi. Tiga kali berhenti untuk makan dan ngopi dan ngebul. Satu Antimo cukup menahan isi perut untuk tidak keluar. Rutenya tidak “berpola”. Kanan, kiri, kiri tajam, turunan, naik, kanan... tidak seperti rute, misalnya dari Sukabumi ke Pelabuhan Ratu, yang masih bisa dirumuskan lajurnya. Selain itu, kemulusan jalan juga menghebohkan cacing-cacing perut. Sepertiga perjalanan beraspal bisul dan koreng. Lubang sana-sini. Jendulan sana-sini.

Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah tidur dan mendengarkan musik. Lagu yang diputar di awal-awal, karena memakai flasdisk saya, sebagian besar adalah Slank.Sekali-kali, kami pun mengobrolkan band ini. Sayangnya, gadis yang duduk di sebelah adalah generasi Afgan. Jadi, banyak tak nyambung. Padahal, cukup manis. Pembicaraan mengenai Slank pun hanya melibatkan tiga peserta. Plus supir. Begitu semangatnya. Kami seolah-olah pakar, yang menilai Slank dalamsudut pandang objektif. Padahal, semua subjektif!!. Tak apa, kesamaan kegemaran menjadikan pembahasan jadi terasa lebih heboh. Si gadis, tentu memilih tidur. Telinganya, selain berbau Afgan, juga telinga Cerry –graham- Bellll..hehe.

Di Sintang, kota antara Pontianak dan Putussibau, kami berhenti. Supir berganti. Supir yang ini begitu mudah mengantuk tampaknya. Sebab itu, ia memutar lagu disko koplo. Saya menertawakan mas Ismu dalam hati, sebab sebelumnya ia pernah mengungkapkan, disko koplo adalah siksaan terhebat dalam pengalaman perjalanannya. Sekarang terulang lagi. Haha. Tapi, yang penting selamat. Si supir toh berhasil terus melek.

Jam delapan pagi tepat, sampai. Pemberhentian terakhir kami di kantor WWF cabang Putussibau. Di sana, kami beristirahat satu harian.

Besok hari pun datang. Pagi-pagi, kami siapkan motor. Isi bensin, full tank. Isinya di eceran, sebab pom bensin hanya buka dua kali dalam satu minggu. Jadi, you know lah, harga eceran, apalagi di tempat yang minim distribusi. Lalu, bersama seorang sahabat mas Ismu, pak Basa, kami pun berangkat. Satu jam perjalanan itu mengingatkan saya pada jingle Ninja Hattori. Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke Samudra. Maklum, jalurnya adalah jalur setapak, bukan jalan raya. Juga perlu, dua kali menaikkan motor ke sampan. (Di suatu penyebrangan, terjadi insiden. Saya menjatuhkan kamera ke sungai. Hiks. Untung tidak apa-apa)

Lalu, sampailah, sekitar jam delapan pagi, di gereja Santu Antonius Dari Padua, Desa Tanjung Karang, kecamatan Putussibau Utara. Di sana sedang akan diadakan misa. Bukan misa biasa, sebab kali ini disertakan juga pembukaan pesta Dango (baca: Dange) masyarakat Dayak Kayaan yang tinggal di sana. Karena pesta itulah, kami jauh-jauh kemari.

PEMAKNAAN DANGO

Dango (biasa diistilahkan juga dengan Gawai) adalah suatu pesta panen masyarakatDayak. Kurun waktunya bermacam-macam. Ada yang terhitung hari, ada yang lebih dari seminggu. Dango Dayak Kayaan desa Ida’ Beraan yang kami kunjungi ini, akan berlangsung seminggu. Maka, dalam seminggu itu, kami pun membiasakan telinga dengan alunan dendang dariMudi dan Kelentang, alat musik pukul khas Dayak Kayaan, yang hampir setiap hari dimainkan di Rumah Betang, rumah adatDayak. Sebenarnya, acara serunya ada di dua hari terakhir. Selebihnya hanya persiapan. Namun, dalam persiapan, bisa disaksikan bagaimana tata dekorasi dan pengisi apresiasi dimatangkan. Dan ini termasuk hal yang menyenangkan. Bisa dilihat, hanya orang-orang yang memang ahli yang bisa membuat Penghout (surai-surai dinding yang diiris dari kayu Payoung) dan membentuk Tublak (bunga dari kayu berbentuk segi empat dan digantung). Para calon penari Peju Lasaah dan Hudo (tari khas dayak Kayaan) yang umumnya masih berstatus pelajar, pun terlihat rajin berlatih. Hoanijaan (seniman Kayaan) Ko Ana (60), pengajar mereka, menuturkan bahwa jika tari hanya dipahami sebagai gerakan, akan sulit sekali belajar. Tari memiliki makna yang lebih dalam dari pada sekadar berlenggak lenggok.

Oh, sekilas mengenai Ko Ana. Dia sosok yang mengagumkan. Saya beruntung bisa banyak berbincang-bincang dengannya. Dia mendapat gelar Hoanijaan karena kemampuan seninya adalah yang terbaik di masyarakat dayak Kayaan. Main Sampek (gitar Dayak) bisa. Main Mudi (seperti Gamelan) bisa. Dayung (menembang dengan bahasa Dayak Kayaan), dia jagonya. Menari, jangan dibicarakan lagi, dia pakarnya. Beliau pun merupakan sosok yang penting dalam Dango. Banyak bagian acara yang melibatkan dirinya. Dari beliau jugalah kami banyak mendapat informasi tentang Dango dan adat masyarakat Dayak Kayaan.

Waktu pun terus berlalu. Tiga hari menjelang puncak Dango, saya dan mas Ismu memutuskan untuk menginap di rumah salah seorang warga. Yang paling menyenangkan dari hal ini adalah, setiap mandi, harus beranjak ke sungai Mandalam yang memang mengalir sepanjang desa Ida’ Beraan. Tidak luar biasa kan?. Ya, maaf, saya agak memiliki masalah dengan kebahagiaan masa kecil. Hanya ingin menekankan, kealamian dan kenaturalan begitu terasa dari kecipak-kecipuk air sungai Mandalam.

Sehari sebelum acara puncak, acara-acara mulai “serius”. Rumah Betang dibersihkan. Warga-warga semakin sibuk berlalu lalang, sibuk mempersiapkan. Beberapa ritual adat pun mulai dilaksanakan. Salah satunya, mendirikan rumah Dango. Rumah Dango ini, hanya khusus diadakan untuk acara Dango. Usai Dango, ia akan dirubuhkan. Bahan-bahan khusus untuk rumah tersebut pun segera disediakan; kayuhubo, hibo, buluh (bambu) kuning, danakartavaa’. Pendirian rumah diawali dengan sebuah upacara. Seorang anak laki-laki, yang masih lengkap orang tua dan kakek-neneknya (ini rukun wajib pendirian rumah Dango), menjadi orang yang meletakkan tiang pertama. Ia diantarkan oleh sebuah tarian. Lalu, berbagai macam doa adat dibacakan tetua. RumahDango pun mulai bisa di bangun. Menjelang sore, rumah Dango rampung.

Selanjutnya, Hoanijaan Ko Ana, melaksanakan proses persembahanatauMater Halok. Persembahan berupa daging babi masak, tuak yang ditampung ke dalamTawe (bambukecil), rokok, sirih, dandinoanyeh (kulit ketan yang digoreng dengan minyak babi). Seluruhnya dimasukkan kedalam tempat bambu bernama belakak untuk kemudian diletakkan Ko Ana di hutan, di sisikanan, kiri, dan depan rumah adat.

Esok harinya, acarapuncak pun dimulai. Mayoritas masyarakat dusun hadir. Tidak sedikit pula tamu undangan. Salah seorangnya adalah pak Agus Mulyana, wakil bupati Kapuas Hulu. Kedatangannya beserta rombongan pemerintahan, berisi beberapa kepala dinas dan staf pemda Kapuas Hulu. Tarian Hudo pun ditampilkan untuk menyambut mereka. Ketika mereka sudah duduk dengan rapi di rumah Betang, pembukaan acara puncak segera dimulai.

Tarian Pejuu Lasah, yang dipimpin seorang perempuan yang memegang Mandau, menjadi awalan. Mandau di tari Pejuu Lasah, lantas digunakan untuk pemotongan persembahan, Babi. Ritual ini diistilahkan NivakUting. Selanjutnya, dilanjutkan lagi ke acara “pemberkatan” atau Melaa’. Para keluarga silih berganti membawa anaknya ke dalam rumah Dango untuk didoakan. Doa-doa lain juga dipanjatkan, seperti Negui ka ketanaa’ (doa mohon kelancaran ladang), Mayaa’ Tivii (doa mohon perlindungan), Nyinaah (doa untuk kesatuan seluruh masyarakat), atauTepujoo’ Ujan (doa agar cuaca baik).

Tengah hari, acara diselingi dengan santapan persembahan. JugaTuak (minuman khas Dayak) yang diantar berkeliling. Selesainya, doa-doa kembali dilaksanakan. Hingga waktu pun menuntutUlii’ Wa (penutupan). Coreng moreng arang, dicoretkan pada setiap orang –sebuah tanda bahwa orang tersebut mengiukuti Dango. Semua tertawa. Semua bersyukur. Mudi, Kelentang dan Sapek, masih berbunyi.Tuak pun masih terus diedarkan.

INKULTURISASI DAN PELESTARIAN BUDAYA

Pesta Dango, awalnya hanya merupakan pesta panen bagi masyarakat Dayak Kayaan. Secara mitologis, diterangkan oleh Huanajoo Ko Ana, pesta Dango adalah bentuk penghormatan kepada Hunyang Bulan (semacamDewi Sri dalam mitologiJawa) yang merelakan dirinya menjadi padi. Dalam perkembangannya, Dango menjadi bukan sekadar berkaitan dengan pesoalan panen. Ko Ana menjelaskan “Dango juga merupakan doa, rasa terimakasih, kecintaan terhadap alam, dan simbol persatuan”. Di hari kemudian, beberapa cerita ini, termasuk bagaimana sejarah dayak Kayaan berlangsung, saya temukan dalam buku Apo Kayaan (lupa pengarangnya) dan Di Pedalaman Kalimantan (Dr. Anton W. Nieuwenhuis, 1984).

Ungkapan Ko Ana (sungguh, ia wanita yang baik hati dan seniman yang mengagumkan) juga menjelaskan beberapa mengenai seni dayak Kayaan. Misalnya, mengapa tarian Pejuu Lasah dipimpin penari yangmemegang Mandau; pengeyahan marabahaya dan bencana. Ada juga tarian Anokiaa (dilakukan dengan memegang bersama-sama seutas kain) yang menunjukkan simbol keharmonisan dan persatuan. Begitu pun dengan pakaian yang dikenakan; para penari PejuuLasah menggunakanTengkulasyang terdiri dari kepala dan ekor burung Enggang asli (Tengkulas ini tidak lagi diproduksi, karena eksistensi jumlah burung Enggang yang mulai menipis). Secara mitos, aksesoris tersebut bermakna rasa terima kasih masyarakat Dayak Kayaan terhadap bantuan burung Enggang saat mereka tiba di hulu Sungai Kapuas dari Apo Kayan (sekarang masuk wilayah Kalimantan Timur). Ini menjadi sebuah bentuk kecintaan dan penghormatan kepada alam.

Semua pemaknaan tradisi itu dapat dikatakan sebagai “sisa-sisa” bentuk orisinalitas kebudayaan Dayak Kayaan. Sebab, seperti halnya suku atau masyarakat lain, Dayak Kayaan pun tidak terhindar dari perkembangan peradaban. Jangan bayangkan Dayak Kayaan sebagai sebuah suku yang tidak mengenal televisi atau handphone (meski sinyal agak susah). Perkembangan peradaban ini mereka sadari. Tinggal memilih, meyikapinya dengan bijak atau terbawa arus saja.

Di tataran religuitas, asimilasi ini, atau kita istilahkan saja inkulturisasi, sudah terlihat. Saat di acara misa pembukaan Dango, lagu-lagu rohani dinyanyikan dalam bahasa Dayak Kayaan. Ditampilkan pula tarian-tarian dayak Kayaan di dalam gereja. Ada kombinasi antara kepercayaan Dayak Kayaan lama dengan konsep gereja.

Lantas, kami bercakap-cakap dengan pastor Suhardi dan salah seorang tetua (lupa namanya). Dijelaskanlah; secara historis, keberadaan agama Kristen di dayak Kayaan, dimulakan oleh pastor Ding. Beliaulah yang mengedepankan konsep inkulturisasi. Kepercayaan masyarakat Dayak Kayaan terdahulu, yang menganggungkanTenangan (pembagi rejeki), Tipang (pencipta), danTinge (pemelihara), memiliki garis yang sama dengan konsep gereja; trinitas yang bermuara pada satu kekuasaan. “Ini jugalah yang memudahkan Kristen diterima di Kayaan” ujar pastor Suhardi.

Maka, kata “Tipang” yang sebelumnya merupakan sebutan untuk salah satu dewa, sekarang berubah menjadi “Tuhan”.

Hal ini saya temui dalam satu lagu rohani gereja yang diterjemahkan dalam bahasa Kayaan. Hmm, iramanya easy listening. Mudah diingat. Sayang, saya hanya bisa menyertakan liriknya.


Ni’nah halo amee
Kame Klunaan dusa
Kelaan kame umah ame
Hurung je uss ame
Na vah in ke nap ame

O Tipang apii’ ni naa’
Apii’ Tipang apii ni naa’

Ini lah dalam (halam) kami
Kami orang berdosa
Agar kami tidak susah
Dapat rumah kami
Tuhan, ambillah ini
Ambillah Tuhan, ambillah persembahan kami

(Mada Bakti Kayaan, Diterjemahkan ke bahasa Kayaan oleh Lusia Ping dari MB.Nogzy)

Di tataran apresiasi seni, asimilasi budaya juga bisa ditemui. Jadi, di dalam Dango ternyata tidak hanya ditampilkan tarian atau nyanyian adat. Ketika bercakap-cakap dengan ketua adat Dayak Kayaan mengenai persiapan pesta puncak, dia membeberkan draft acara. Di satu bagian, tepatnya malam sebelum hari puncak (semodel malam Takbiran), ada dipaparkannya “tengah malam, acaranya dangdutan”. Tentu ini membuat kening sempat berkerut. Ia pun menambahkan “Buat menarik yang anak-anak muda. Kalau hanya tarian adat, mereka tidak tertarik. Memang, soal ini sesama panitia ada perdebatan. Tapi, kita tidak bisa menolak perkembangan budaya”. Kami pun angguk-angguk. Itu mungkin salah satu keputusan yang terbijak menghadapi sepak terjang era kontemporer ini. Itu juga menunjukkan, mengapa generasi muda tidak banyak mengerti tentang seni tradisional Kayaan saat kami tanyai. Sayang sekali.

Demi menanggulangi miss genariton, tentu yang perlu dilakukan adalah penyadaran berkelanjutan tentang pentingnya menjaga kelestarian budaya. Yang paling berwenang untuk itu adalah pemerintah (saya mencoba untuk tidak pesimis terhadap pemerintahan.hehe). Ketika Wakil Bupati Agus Mulyana kami wawancarai, ia pun menanggapi dengan serius perihal kelestarian budaya ini.Ia mengimbau kerja sama seluruh masyarakat. “Pelestarian budaya bukan hanya kerja sebagian orang, namun sudah semestinya mencangkup seluruh elemen masyarakat.Tindakan ini pasti ada konsekuensi. Tapi selama ada niat baik, pasti baik.” Wakil Bupati selanjutnya mengungkapkan program pemerintah demi pelestarian budaya. Beberapa di antaranya adalah penganggaran APBD untuk budaya, pembuatan kalender budaya, pelaksanaan festival budaya, pengadaan kurikulum budaya lokal dalam sekolah-sekolah dan program promosi kegiatan adat. “Masyarakat itu rindu dengan ritual budaya” tambahnya. Semoga bukan planning di atas lidah saja pak. Amin.

MAKAN GAK MAKAN (BABI) ASAL KUMPUL

Salah satu hewan kegemaran masyarakat Dayak adalah Babi. Babi pula yang menjadi hewan persembahan dalam Nevak Uting (prosesi persembahan). Babi bagi masyarakat Dayak setara denganKambing atau Sapi bagi masyarakat muslim di hari Raya Kurban. Si Babi ini pula, usai darah dari nadi lehernya habis memuncrat, yang dibawa masuk ke dapur, lantas dimasak.

Siang hari, ketika break acara puncak, hidangan makan siang pun disediakan. Salah satu lauknya, ya babi tadi. Sebut saja, sup babi. Semua orang pun ambil posisi. Siap-siap menyantap porsi yang tersedia.

Saya, tidak makan babi. Tidak perlu khawatir, sebab disediakan menu khusus untuk orang-orang model saya ini. Di acara Dango, juga diundang banyak desa tetangga, salah satunya adalah desa Sambus yang mayoritas penduduknya muslim. Maka menu saya pun sama seperti penduduk Sambus.

Menu saya, saya taruh di hadapan saya. Posisi saya, tetap di rumah Betang, tetap di antara seliweran sup Babi. Saya pun duduk bersila, lalu, hup, makan siang pun dimulai.

Salah seorang kenalan saya di Ida’ Beraan, diakon (asisten Pendeta) Jefri, yang duduk di samping saya tidak makan Babi juga ternyata. Iseng, dua sahabat kami dari Dayak Kayaan yang duduk di hadapan kami mengejek “Huu, kalau tidak makan Babi di Dango, tidak sah Dangonya”. Saya tertawa. Diakon Jefri juga tertawa. Diakon Jefri lantas berkata “Kalau Rojay makan Babi, saya makan juga”. Hahahaha. Saya ingin Diakon Jefri membuktikan ucapannya, lalu saya ambil satu mangkok sup Babi. Dan,..saya taruh lagi supnya. Tidak mampu ternyata. Hahaha.

Selesai makan, acara kembali dilanjutkan. Satu jam sebelum acara selesai, mulailah minuman khas Dayak, yang dihasilkan melalui fregmentasi dari ketan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuak, disebarluaskan. Kali ini, saya tergoda.

Sebelum senja selesai, acara usai. Semua orang menari-nari. Saya taruh kamera. Mas Ismu taruh kamera. Dan kami ikut menari. Diakon Jefri juga. Berputar-putar. Wajah-wajah kami lantas dicorengi oleh arang. Tidak boleh marah. Tadi sudah diterangkan, itu merupakan tanda bahwa kami telah menghadiri Dango (Hal yang sama juga mereka lakukan terhadap wakil bupati Kapuas Hulu. Hmm, di Dango, politik dan jabatan nomor sekian). Tapi, kami boleh membalas. Maka, terjadilah sedikit kehebohan yang mengasyikkan di sepanjang rumah Betang. Dari speaker, terdengar alunan dangdut. Bukannya benci dangdut, namun “Mengapa dangdut lagi?”

Sebelum gelap, saya dan mas Ismu undur diri. Kami berkemas lalu pamitan kembali ke kota Putussibau. Kami pun bersalam-salaman. Yang namanya perpisahan, tentu tidak menyenangkan. Apalagi ketika kita mulai merasa dekat dengan yang ditinggalkan. Jadi, rasanya terlalu cepat Dango ini. Dan, ternyata ada kesan yang lebih mendalam yang disisakan Dango dibanding sekadar perpisahan. Saat itu saya tidak menyadarinya.Karena naik motor pun, saya harus bersusah payah. Tuak yang masuk terlalu banyak. Sepanjang perjalanan, saya bahkan harus memegangi terus pundak mas Ismu yang membonceng. Kalau lebih satu gelas lagi, habislah..

Sampai di WWF Putussibau, jam tujuh malam. Langsung tepar. Jam delapan malam bangun, lalu beranjak ke warung makan. Beli nasi dan ikan bakar. Saya hanya mampu makan seperempat. Proses fregmentasi ternyata masih terus berlangsung di perut, mengacaukan nafsu makan dan proses pencernaan. Sisa makanan, akhirnya saya bungkus saja.

Di kantor, saya pun berlama-lama di kamar mandi. Keluarkan semua. Harapannya, tentu agar proses fregmentasi berhenti. Keluar dari kamar mandi, tidur lagi.

Jam sebelas malam, saya bangun dan mencoba untuk berdiri. Ternyata, tidak limbung. Wah. Rasa lapar pun muncul. Artinya, fregmentasi sudah berhenti. Saya ambil makanan yang tadi saya bungkus, lantas beranjak ke ruang WWF depan yang ada televisinya. Sendirian, saya lalu menyantap makan malam sambil menonton. Channel televisinya terbatas. Yang paling bagus, channel yang selalu berisi berita. Mau tidak mau, saya pun menyaksikan. Dari pada makan dalam keheningan.

Diberitakanlah; keributan di Solo. Satu tewas. Tawuran antar-mahasiswa karena pertandingan sepakbola. Tindakan anarkis geng motor semakin marak. Pembubaran diskusi buku di Salihara. Dan macam-macam lagi. Dan macam-macam lagi.

Entah mengapa, saya tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Hingga terpaksa saya tutupi mulut saya agar nasi dan lauk pauk yang sudah di perut tidak melompat keluar. Di dalam tawa itu, saya mengucap “katanya negara Bineka Tunggal Ika”. Lantas saya tersedak. Beberapa nasi masuk ke dalam saluran hidung. Beruntung, bukan tulang ikan.

Lantas, saya ingat kepada Dango, kepada masyarakat dayak Kayaan. Padahal, baru beberapa jam saja kami berpisah, tapi rasanya sudah lama. Jomplangsekali apa yang dirasakan saya sore tadi ketika masih di rumah Betang dengan kali ini di depan televisi. Inilah yang seharusnya saya sadari dari tadi; bersama mereka, ada keharmonisan, ketentraman. Saya yang tidak makan babi dan mereka yang makan babi bisa duduk bersama-sama dalam satu lantai, berdempet-dempet, tanpa merasa risih, bahkan tertawa-tawa. Motto Dango “Pehengkung peji pepaang petangaraan, pehadi jung urip sayu’ hani ngerimaan (berkumpul bersama dalam satu ikatan, giat berkerja agar hidup jadi lebih baik)” yang ditulis di atas kain hijau dengan estetika aksara apa adanya, bukan diukir indah-indah atau dibikin patung (Bhineka Tunggal Ika maksudnya), bagi mereka bukan sekadar kata-kata yang selewat pandang. Makna motto mereka coba pahami, maknai, dan lakukan dengan sungguh-sungguh.

Di televisi, keributan yang terjadi kadang hanya karena masalah gengsi; gengsi kalau dianggap salah, gengsi kalau dibilang kalah. Dan tidak sedikit dari kita mulai mencoba menjadi tuan-yang-maha-benar.

Usai menonton, saya membuat kopi, lalu beranjak ke teras belakang. Disaksikan remang rembulan, angin dari hutan Heart of Borneo, dan semilir lembut embun (ciee bahasanya) saya merenungkan kata Mamak, salah seorang dayak Kayaan yang bersuami muslim, yang dalam satu minggu Dango, rumahnya sering disantroni saya dan mas Ismu untuk makan malam. “Mayoritas di sini kristen. Yang muslim cuma sepuluh KK (Kepala keluarga). Tapi, tidak pernah kelahi. Untuk Dango, kita sama-sama kerja. Tidak apa-apa beda iman. Semuanya kan niatnya sama. Menyembah Tuhan. Mau masuk surga.” Saya lantas ingat komentar Komaruddin Hidayat dalam The Wisdom of Life “Jika memang agama diwahyukan untuk manusia dan bukan manusia untuk agama, maka salah satu ukuran baik-buruknya sikap hidup beragama adalah dengan menggunakan standar dan kategori kemanusiaan, bukannya ideologi atau sentimen kelompok”

Untuk beberapa menit, saya membayangkan diri saya untuk menetap saja di sana, tidak perlu kembali lagi ke kota.

Terima kasih.



Singkawang, 18 Juli 2012.
Pesta Dango Dayak Kayaan ini dilaksanakan di dusun Ida’ Beraan, desa Tanjung Karang, kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tanggal 30 April 2012-5 Mei 2012.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar